SOHCAHTOA sering diajarkan sebagai jimat yang harus dihafal: Sin = Depan/Miring, Cos = Samping/Miring, Tan = Depan/Samping. Masalahnya, jimat yang dihafal gampang lupa — apalagi kalau segitiganya digambar terbalik atau sudutnya bukan yang biasa muncul di buku paket. Memahami dari mana ketiga perbandingan ini berasal justru membuatnya sulit dilupakan.
Dari mana sin, cos, dan tan berasal
Ambil segitiga siku-siku dengan salah satu sudut lancip . Tiga sisinya punya nama berdasarkan posisinya terhadap : sisi miring (hipotenusa, selalu di depan sudut siku-siku), sisi depan (di seberang ), dan sisi samping (berimpit dengan , bukan hipotenusa).
Dari tiga sisi itu, ada tiga cara membandingkan panjangnya:
Memperluas ke lingkaran satuan
Definisi segitiga di atas hanya berlaku untuk sudut antara dan . Untuk sudut yang lebih besar — atau negatif — trigonometri dipindahkan ke lingkaran satuan (lingkaran berjari-jari 1 berpusat di titik asal).
Setiap sudut diukur berlawanan arah jarum jam dari sumbu- positif. Titik tempat sudut itu memotong lingkaran punya koordinat — jadi cosinus adalah koordinat-, sinus adalah koordinat-. Definisi ini otomatis cocok dengan definisi segitiga untuk sudut lancip, tapi sekarang berlaku untuk sudut berapa pun, termasuk yang membuat nilai sinus atau kosinus jadi negatif.
Nilai sudut istimewa
Beberapa sudut punya nilai sin, cos, dan tan yang bisa ditulis eksak (bukan desimal berulang) dan sering muncul di soal:
| tak terdefinisi |
Polanya lebih mudah diingat daripada dihafal satu-satu: nilai naik dari ke saat sudut naik dari ke , sedangkan turun dari ke — masuk akal karena keduanya cuma koordinat- dan koordinat- dari titik yang bergerak mengelilingi lingkaran.
Identitas dasar:
Identitas ini bukan rumus terpisah yang perlu dihafal — ia langsung mengikuti Teorema Pythagoras. Di lingkaran satuan, titik berjarak dari pusat, sehingga:
Latihan singkat
Jika dan berada di kuadran I, coba cari menggunakan identitas sebelum menggambar segitiganya. Begitu terbiasa berpikir lewat hubungan antar rumus — bukan menghafal rumus satu per satu — soal trigonometri dengan bentuk yang belum pernah dilihat pun jadi lebih mudah didekati.