Banyak siswa punya catatan matematika yang rapi — warna-warni, disalin ulang dari papan tulis dengan tulisan tangan bagus — tapi hampir tidak pernah dibuka lagi setelah ujian selesai. Ini pertanda catatan itu dibuat untuk terlihat lengkap, bukan untuk benar-benar dipakai belajar. Catatan yang efektif punya tujuan yang berbeda: membantu diri sendiri di masa depan, bukan mendokumentasikan semua yang ditulis guru di papan tulis.
Catat proses berpikir, bukan cuma hasil akhir
Catatan yang isinya cuma rumus jadi ("") tidak banyak membantu kalau lupa kapan rumus itu dipakai atau dari mana asalnya. Yang lebih berguna adalah mencatat kapan suatu metode dipakai dan kenapa — misalnya "pakai rumus kuadrat kalau bentuknya tidak bisa difaktorkan dengan mudah", bukan sekadar rumusnya sendiri.
Sertakan contoh soal yang sempat bikin bingung
Bagian catatan yang paling berharga biasanya bukan penjelasan konsep, melainkan soal yang sempat salah dikerjakan — lengkap dengan letak kesalahannya dan cara memperbaikinya. Catatan seperti ini lebih personal dan lebih relevan dibanding rangkuman umum, karena langsung menyasar kelemahan yang benar-benar dialami, bukan kelemahan siswa lain secara umum.
Kelompokkan berdasarkan jenis soal, bukan urutan bab
Catatan yang disusun ketat mengikuti urutan bab di buku pelajaran sering menyulitkan saat mencari kembali informasi spesifik — apalagi kalau soal ujian mencampur beberapa bab sekaligus. Mengelompokkan catatan berdasarkan jenis soal atau jenis kesalahan (misalnya "soal yang butuh permisalan variabel", "soal yang sering salah tanda") lebih mudah dicari ulang saat sedang revisi untuk ujian gabungan.
Catatan pendek yang sering dibuka lebih berguna dari catatan lengkap yang jarang dibuka
Catatan yang benar-benar dipakai biasanya pendek, mudah dipindai sekilas, dan langsung menunjukkan bagian yang paling sering jadi sumber kesalahan — bukan mendokumentasikan setiap detail yang pernah dijelaskan di kelas.
Latihan singkat
Ambil satu bab yang baru dipelajari. Alih-alih menulis ulang seluruh penjelasan, coba buat catatan dalam tiga bagian saja: satu kalimat inti konsepnya, satu contoh soal yang sempat membingungkan beserta letak kesalahannya, dan satu catatan singkat "kapan metode ini dipakai". Bandingkan seberapa sering catatan bentuk ini benar-benar dibuka kembali dibanding catatan panjang yang biasa dibuat.