Lewati ke konten utama
Kembali ke daftar artikel
Strategi Belajar

Growth Mindset dalam Matematika: Kenapa Anggapan Tidak Bisa Itu Keliru

Kenapa anggapan otak matematika bawaan lahir tidak akurat, dan bagaimana cara berpikir tentang kemampuan diri memengaruhi seberapa cepat seseorang berkembang.

Oleh Muhammad Nuur Rohman

"Aku emang dari dulu gak bisa matematika" adalah kalimat yang sering terdengar dari siswa — bahkan diucapkan dengan nada pasrah, seolah itu fakta yang tidak bisa diubah. Kalimat ini bukan sekadar keluhan biasa; cara berpikir di baliknya justru bisa memengaruhi seberapa besar usaha yang mau dikeluarkan untuk terus mencoba.

Dua cara memandang kemampuan diri

Ada dua cara umum orang memandang kemampuannya sendiri dalam belajar sesuatu:

  • Anggapan tetap (fixed mindset): kemampuan matematika dianggap bawaan — seseorang "memang" pintar matematika atau "memang" tidak, dan itu sulit berubah.
  • Anggapan berkembang (growth mindset): kemampuan matematika dianggap sesuatu yang bisa dibangun lewat usaha dan latihan yang tepat, sama seperti kemampuan lain yang dilatih.

Kenapa cara berpikir ini memengaruhi hasil belajar

Siswa dengan anggapan tetap cenderung menganggap kesulitan sebagai bukti bahwa dirinya "memang tidak bisa" — sehingga saat menemui soal sulit, reaksinya sering menyerah lebih cepat, bukan mencoba pendekatan lain. Siswa dengan anggapan berkembang cenderung menganggap kesulitan sebagai bagian wajar dari proses belajar — sehingga lebih mudah mencoba lagi setelah gagal, karena kegagalan tidak dianggap sebagai bukti ketidakmampuan permanen.

Perbedaan ini bukan soal siapa yang "lebih pintar" secara bawaan, melainkan siapa yang lebih mudah bertahan saat menghadapi materi yang sulit — dan bertahan lebih lama biasanya berarti lebih banyak kesempatan untuk benar-benar menguasai materi itu.

Kesalahan yang perlu dihindari orang tua dan pengajar

Pujian seperti "kamu memang pintar matematika" — meski bermaksud baik — justru bisa memperkuat anggapan tetap, karena menekankan pada kemampuan bawaan, bukan usaha. Pujian yang lebih membantu justru mengarah ke proses: "kamu terus mencoba cara lain sampai ketemu solusinya" — ini menekankan bahwa usaha dan strategilah yang membuahkan hasil, bukan bakat semata.

Bagaimana ini terhubung dengan cara belajar sehari-hari

Cara berpikir ini paling terasa dampaknya saat menghadapi soal yang sulit atau nilai ulangan yang tidak sesuai harapan. Siswa yang terbiasa memandang kegagalan sebagai bagian dari proses lebih mudah mengevaluasi kesalahannya dan mencoba lagi, dibanding siswa yang langsung menyimpulkan "aku memang tidak berbakat" dan berhenti mencoba di titik itu.

Ringkasan

Kalimat "aku emang gak bisa matematika" bukan fakta tetap — itu cara berpikir yang bisa diubah, dan cara berpikir itu memengaruhi seberapa besar usaha yang mau dikeluarkan saat menghadapi kesulitan. Mengganti anggapan "tidak bisa" menjadi "belum bisa", dan memberi apresiasi pada proses dan usaha (bukan cuma hasil), adalah langkah kecil yang berdampak besar pada seberapa jauh seseorang mau terus mencoba.

Artikel terkait

Strategi Belajar

Apa Itu TIU (Tes Intelegensi Umum) dalam SKD CPNS?

Penjelasan TIU sebagai salah satu komponen SKD CPNS, tiga area yang diujikan (verbal, numerik, figural), dan cara memulai persiapan yang terarah.

Strategi Belajar

Cara Menyiapkan Numerasi untuk TKA/UTBK Sejak Kelas 10

Kenapa persiapan numerasi TKA/UTBK lebih efektif dimulai sejak kelas 10, dan bagaimana menyusun tahapannya tanpa harus terburu-buru di kelas 12.

Strategi Belajar

Jadwal Belajar TIU CPNS: Berapa Lama Persiapan yang Realistis?

Cara menyusun jadwal belajar TIU CPNS yang realistis untuk pekerja atau lulusan baru, termasuk pembagian waktu antara verbal, numerik, dan figural.